HABITUS, DOMINASI SIMBOLIK, DAN GENDER DALAM AGAMA: STUDI KOMPARATIF PIERRE BOURDIEU DAN SEYYED HOSSEIN NASR
Abstract
Artikel ini mengkaji relasi habitus, dominasi simbolik, dan gender dalam agama melalui studi komparatif Pierre Bourdieu dan Seyyed Hossein Nasr. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana ketimpangan gender dalam kehidupan keagamaan dibentuk tidak hanya oleh doktrin teologis, tetapi juga oleh struktur sosial-historis serta pandangan metafisis. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan komparatif-dialogis, melalui analisis konsep habitus, field, doxa, dan symbolic violence dari Bourdieu serta perspektif metafisika Nasr tentang sacred knowledge, kosmologi spiritual, dan tradisionalisme Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka Bourdieu efektif untuk mendekonstruksi struktur patriarki dalam institusi keagamaan melalui pembongkaran mekanisme kuasa simbolik yang mereproduksi ketimpangan gender melalui internalisasi norma sosial. Sementara itu, Nasr menawarkan kritik pelengkap dengan menegaskan bahwa krisis gender modern juga bersumber dari sekularisasi yang memutus manusia dari nilai sakral dan keseimbangan ontologis. Dalam pandangan Nasr, agama autentik pada dasarnya tidak melegitimasi patriarki, melainkan distorsi historis dan reduksi materialistiklah yang melahirkan ketidakadilan gender. Studi ini menegaskan bahwa reformasi gender dalam konteks agama membutuhkan dua gerak epistemologis sekaligus: dekonstruksi sosial terhadap habitus patriarkal dan rekonstruksi spiritual terhadap nilai-nilai sakral agama. Dalam konteks Indonesia, sintesis ini menawarkan kerangka alternatif yang mampu menghindari reduksionisme sekuler maupun konservatisme tradisional. Dengan demikian, dialog Bourdieu dan Nasr menunjukkan bahwa agama dapat berfungsi bukan hanya sebagai mekanisme dominasi simbolik, tetapi juga sebagai kekuatan etis-transformatif bagi keadilan sosial, spiritual, dan gender.
1.png)





