Etika Komunikasi di Era Post-Truth: Perspektif Islam dalam Menghadapi Hoaks dan Polarisasi Digital
Abstract
Era post-truth telah menggeser paradigma kebenaran objektif menjadi subjektivitas emosional, yang memicu masifnya penyebaran hoaks dan polarisasi digital. Fenomena ini tidak hanya merusak kohesi sosial tetapi juga mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi prinsip-prinsip etika komunikasi Islam sebagai solusi atas krisis kebenaran di ruang siber. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research), mengkaji sumber primer Al-Qur'an dan Hadis yang relevan dengan komunikasi. menunjukkan bahwa Islam menawarkan kerangka etis komprehensif melalui konsep Qaulan Sadidan (perkataan yang benar), prinsip Tabayyun (verifikasi informasi), dan menjaga Ukhuwah (persaudaraan). Etika komunikasi Islam menuntut integritas moral komunikator untuk tidak hanya menyampaikan data yang akurat, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dari pesan tersebut. Implementasi Tabayyun menjadi filter utama dalam memutus rantai disinformasi, sementara prinsip kesantunan berperan meredam polarisasi yang tajam akibat perbedaan pilihan politik atau pandangan sosial. penelitian ini menegaskan bahwa etika komunikasi Islam sangat relevan dalam menghadapi tantangan era post-truth. Transformasi digital harus dibarengi dengan transformasi moral pengguna media sosial. Penegasan kembali nilai-nilai profetik dalam berinteraksi di ruang digital dapat menjadi benteng pertahanan masyarakat dari paparan hoaks serta menjadi perekat sosial di tengah ancaman perpecahan digital
Copyright (c) 2026 Asmawan Asmawan, A. Markarma, Azma Azma

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
