PESANTREN MARITIM KERAJAAN PASER ABAD XVII - XX (Studi Pemanfaatan Kebudayaan di Ibu Kota Negara Baru Republik Indonesia)

  • Syamsuri Syamsuri Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAIN Palu
  • Minannur Minannur Universitas Alkhairaat Palu
Keywords: ulama, ksatria, penguasa

Abstract

Jejak kekuatan bahari Kerajaan Paser terlacak pada pembacaan kitab-kitab klasik, yang menampilkan wilayah itu sebagai metropolitanisme maritim. Sultan Ibrahim Alamsyah memfokuskan pelabuhan Benuo sebagai bandar utama Kerajaan Paser. Kapal-kapal yang ingin berdagang dan bertransaksi harus bertambat di pelabuhan Benuo. Para saudagar membangun rumah gudang penyimpanan barang di kawasan pelabuhan. Wilayah Kerajaan Paser yang akan menjadi Ibu Kota Negara Baru Republik Indonesia, memang sudah memiliki rekam sejarah penopang pelayaran nusantara, yang memiliki dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Modal sejarah bahari yang memiliki kemampuan teritorial, sangat mapan untuk menjaga kelangsungan wilayah negara dari Sabang sampai Merauke. Tinggalan artefak manuskrip nusantara di Kerajaan Paser, dikaji dengan pendekatan filologis dan analisis isi berupa tauhid, tasawuf, dan muamalah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kerajaan Paser adalah pusat pendidikan Islam pada zamannya. Kekhawatiran rezim kolonial pada pesan-pesan perlawanan, akan meningkatan semangat konsolidasi nusantara, sehingga Kerajaan Paser dipaksa berakhir pada tahun 1920. 

Published
2020-09-29
Section
Articles
Abstract - 442